Bicara Tujuan – Aksara – Cerpen

Ruangbosan.com – Aksara – Puisi – Cerpen – Bicara Tujuan

“Bang, kopi hitam satu.”, teriak pria bertubuh gempal dengan rambut gondrong yang akrab dipanggil Dio. Dengan muka suntuk menahan kantuk dia duduk semeja dengan sahabat – sahabatnya Lukman, Ridwan dan Sukma.

“Mukamu kusut sekali, ada apa Dio?” Sukma berkata sambil menatap Dio dengan mata indahnya.

Jauh dibenak Dio pertanyaan itu bukan membuat Dio ingin menjawabnya, melainkan membuat Dio ingin bersandar dipundak Sukma sambil terus menatap matanya.

Memang, gadis berambut panjang dengan lesung pipit ini sungguh sempurna fisiknya. Mata indahnya dan senyum yang aduhai adalah alasan paling sempurna yang dapat membuat para pria kehilangan kemampuan menahan gravitasi kemudian terjatuh didalam pelukannya.

“Sukma sayang, muka dia memang selalu kusut. Yang terlihat indah hanya perut. Lihat, buntal seperti ini.” Celetuk Lukman, sambil mengelus – elus perut Dio.

Pria berambut ikal ini berhasil secara sempurna merontokan imajinasi Dio tentang Sukma.

“Tak usah pedulikan dia Dio, sekusut – kusutnya kau pastilah lebih kusut Lukman punya Rambut.” Celetuk Ridwan sambil menyangkutkan sedotan kerambut ikal Lukman.

Dengan tangannya yang ringkih dan tipis Ridwan sibuk memasukan sedotan kerambut ikal Lukman. “Ah kalian ini, Aku hanya bingung. Semalam aku sampai tidak tidur memikirkan jawaban dari pertanyaan ayahku…” jelas Dio dengan kurang jelas, membuat teman – temannya semakin penasaran dengan apa yang terjadi.

“Memang kau ditanya apa?”, tanya Lukman sambil sibuk mencari celah untuk mengambil sedotan yang tersangkut dirambut ikalnya.

“Beliau bertanya, “Dio apa yang kau kejar dalam hidup..?”” jawab Dio sambil mempraktekan nada bicara ayahnya.

“Kalo aku ditanya hal itu akan aku jawab, kesuksesan yang aku kejar.”  Jawab Sukma dengan penuh ketegasan sambil mengepalkan tangan dan merapatkan bibirnya, namun hal itu bukan malah memperlihatkan ketegasan karena Sukma malah terlihat menggemaskan dengan lesung pipit yang keluar ketika ia merapatkan kedua bibirnya.

“Sukses itu luas, kalau sukses yang aku kejar, aku sudah sukses lulus SMA, aku sekarang bisa kuliah dengan uang sendiri sambil bekerja. Ada juga orang yang beranggapan kaya itu sukses, kaya seperti apa? Harta tak ada habisnya dikejar.

Lain lagi ada orang yang menganggap mengabdi pada alam walau hidupnya miskin itu adalah kesuksesan, dia sukses membuat alam menjadi lebih baik setiap harinya. Sukses seperti apa? Harus ada titik akhirnya.” Jelas Dio mematahkan ketegasan Sukma.

“Jika kau bilang harus ada titik akhirnya, hmm kalo aku yang aku kejar dalam hidup adalah mati?”, ujar Ridwan sambil menghembuskan asap rokok, seolah pertanyaan itu begitu remeh untuk kapasitas otaknya yang begitu cerdas.

“Ah kau ini, mulai berfilosofi – filosofi lagi. Tapi ada benarnya juga kau, lalu jika begitu kenapa kau tidak mati sekarang..?”  ujar Lukman sambil melempar sedotan yang tadi menyangkut dirambutnya, ia akhirya berhasil menyabut sedotan dari rambut kusutnya.

“Kematian itu tujuan, hidup ini proses menuju tujuan kita tadi, yaitu kematian. Kalau tujuannya menakutkan kita harus bikin prosesnya seindah dan senikmat mungkin bukan? Maka aku tetap jalani hidup sekarang, hidupku harus indah, harus nikmat sebelum sampai tujuan yang kukejar tadi yaitu mati.”

Jelas Ridwan, lalu menghisap kepulan nikotin dalam sebatang rokok. Pipinya yang mengempis saat menghisap rokok mempertegas proporsi badannya yang kurus.

“Tahu dari mana kau mati itu menakutkan? Penderitaan didunia kitakan berakhir, dan Tuhan siapkan kita surga.” Lukman bertanya lagi, ia berusaha memancing perdebatan dengan Ridwan.

“Tahu dari mana juga kau kalo Tuhan siapkan surga untuk kau? Ada neraka, juga dibalik itu, ada juga orang yang percaya reinkarnasi, ku doakan kau reinkarnasi jadi kecoa kau.

Ya memang mati itu akhir perjalan kita didunia yang berat ini, tapi kalo mati sekarang apa kita – kita ini sudah cukup bisa dibanggakan kehidupannya dan siap dipertanggung jawabkan?” Ridwan berkata dengan nada tegas, tatapan tertuju ke Lukman seolah siap menghadapi argument Lukman berikutnya.

“Tak apalah aku jadi kecoa, memang aku menjijikan, tapi daya tahan ku kuat tak peduli cuaca, iklim, habitat bahkan kondisi perang nuklir – pun aku tetap hidup.

Hmm.. memang membingungkan ya pertanyaanya. Apa yang aku kejar dalam hidup? Bagaimana kalo aku jawab yang ku kejar dalam hidup adalah mati untuk masuk surga.” Jawab Lukman dengan kepala agak diangkat sambil melihat kearah Ridwan, seolah pendosa seperti Ridwan tidak akan bisa turut serta masuk ke surga.

“Bagaimana cara kau bisa mengejar surga, lukman?” Tanya Sukma dengan penuh kepolosan menatap penuh Tanya ke Lukman.

Sukma melihat kearah Lukman dengan penuh kepolosan seolah potongan kecil surga sebenarnya sudah ada didepan Lukman, namun dengan pasti Lukman menjawab, “Aku jalani hidup ini berserah dengan Tuhan dan ikhlas, biar nanti saat aku mati bisa masuk surga”. Jelas Lukman seolah jawabannya akan membuat Sukma kagum dengannya.

“Ikhlas setau aku artinya itu bertindak bersih dan murni dengan pengosongan maksud atau tujuan, atau bahasa gampangnya bertindak baik dan benar tanpa mengharapkan pamrih atau imbalan.

Jadi kalau kau berbuat baik dan berserah pada Tuhan hanya untuk masuk surga saja kau sudah tidak ikhlas berbuatnya Lukman.” Oceh Ridwan dengan santai tanpa melihat Lukman sama sekali, hal itu membuat jawaban Lukman patah harapan untuk terlihat bijak dan dikagumi Sukma.

Ridwan berfokus pada abu rokoknya yang mulai memanjang hal tersebut meruntuhkan jawaban Lukman.

“Tapi… ah sudahlah,… kau benar kali ini. Jadi apa yang kita kejar dalam hidup? Jika mati yang kita kejar betapa lucunya Tuhan menciptakan hidup ini sesemu itu bukan…?” Lukman bertanya sambil menggaruk – garuk dagunya seolah otaknya berada didagu.

Lukman mengalah kali ini dari Ridwan dan tidak ingin memperpanjang, karena didalam otaknya berkecamuk banyak pertanyaan, ia berharap salah satu temannya bisa menjawab sebelum isi otaknya keluar dari setiap lubang yang ada dikepalanya.

Tidak tega dengan Lukman yang hampir gila karena pertanyaan itu Dio mencoba mengambil kesimpulan, “Oke… sudah jelas kita pasti mati, yang kita kejar dalam hidup pastilah mati.

Tapi mungkin maksud ayahku bagaimana aku memaknai hidup, dengan tahu yang kita kejar adalah mati. Jika dipikir–pikir,.. hidup ini terdiri dari masa lalu, sekarang dan masa depan.

Kita tidak tahu masa depan akan seperti apa atau kita mati dengan cara apa, dan kita tidak bisa memperbaiki masa lalu, kita hanya bisa menjalani hidup yang sekarang dengan meminimalisir kesalahan agar tidak menjadikan masa depan kita buruk atau hal itu menjadi masa lalu yang buruk dikedepan nanti. Jadi anggaplah sebentar lagi kita mati, dan anggaplah semua yang kita kejar selama ini hanyalah mati.

Maka lakukan dengan sebaik – baiknya. Aku anggap mungkin maksud pertanyaan ayahku itu adalah sebuah refleksi.”.

“ya mungkin begitu, mungkin juga memang ayahmu ingin tahu apa yang ingin kau capai nanti, atau mungkin juga hal yang lain – lainnya yang dia maksud. Hidup ini kan cuman kumpulan asumsi, jadi siapa yang tahu maksud sebenarnya ayahmu itu.

Cuma kesimpulan mu barusan membuatku berpikir, apa Tuhan memang sekonyol itu menciptakan kehidupan, karena ujungnya kita pasti mati.” Ujar Ridwan yang mulai ikut gila.

Tangan kurusnya yang dihiasi jari – jari panjang mengangkat rokok yang sudah panjang dengan abu belum ia sentil dari tadi. Rokok itu diangkat kira – kira satu jengkal dari depan matanya. Ia terus memandang abu rokok itu selama berbicara tadi.

“Udahlah kita jalanin sesimple mungkin aja, lihat aja abang warung ini, ga peduli sama apa yang dia kejar yaitu mati atau apapun asumsi – asumsi yang kita jabarkan tadi.”. Memukul tangan Ridwan dan membuat semua abu rokok tadi jatuh beserta bara – baranya.

Hal tersebut membuat Ridwan melakukan gerakan sia – sia menghindari bara yang ikut terjatuh kekakinya. “Jalanin sebaik mungkin, gausah mikir maksud Tuhan menciptakan hidup ini buat apa, yang abang itu tahu dan yang abang itu kejar sekarang hanyalah ngasih makan ke istrinya dan anaknya lewat seduhan kopi.”

Tak peduli dengan Ridwan yang sibuk dengan abu dan bara rokok kemudian ia melanjutkan perkataannya sambil menyeruput kopi hitam kesukaannya. Sukma berencana menyudahi pembicaraan ini, sebelum semua temannya menjadi semakin gila atau berpikir lebih panjang lagi.

“Nah bener kata Sukma, jalanin aja sebaik mungkin, toh apapun yang kita kejar ujung – ujungnya kematian kan.” Dengan wajah lelah berpikir Lukman berusaha melengkapi dan mengakhiri kegilaan ini.

“ini mas Dio, kopi hitamnya.” Abang penjaga warung kopi menaruh kopi buatannya didepan Dio.

“Makasih bang.” Sambil menyalakan rokok dio menjawab. Kemudian dia bertanya, “abang, apa yang abang kejar dalam hidup?”, Dio masih berusaha untuk tetap didalam topik pembicaraan tersebut, hal tersebut mendapat tatapan sinis dari Sukma.

“ah… ane mah simple – simple aje,.. kalo udah bisa hidupin bini dan anak disini, ane cuma mau Tuhan kasi kepercayaan ke ane buat nikah lagi bang.”, jawab abang penjaga kopi sambil senyum – senyum sendiri.

 

==||==

 

Kehidupan memang sebuah misteri, tak ada yang tahu maksud sesungguhnya Tuhan ketika kita ditakdirkan untuk lahir dan hidup didunia ini dan kemudian harus mati.

Maha Unik Tuhan ketika Dia menghembuskan nafas kehidupan kepada kita, dan betapa luar biasanya bahwa perjalanan dari semua itu harus berakhir pada kematian.

Dibalik itu semua kita memang memiliki banyak rencana dikehidupan yang sebenarnya tanpa kita sadari hal itu untuk menyambut kematian kita. Kita memiliki rencana dari “A” sampai “Z” tetapi mungkin rencanaNya berbeda.

Tak ada yang tahu kapan kita mati yang bisa kita lakukan hanya menyiapkannya sebaik mungkin bukan..?

Konyol memang, kita menjalani proses kehidupan yang mungkin memiliki titik berat yang berbeda – beda satu sama lain, tapi kita memiliki ending yang sama yaitu mati.

Kehidupan ternyata adalah perihal mempersiapkan kematian, dan kematian adalah tujuan dari kita – kita yang hidup. Ini bukan sebuah asumsi yang pesimis yang bisa membuat kita berpikir, “ah buat apa sih dijalanin susah – susah, hidup cuma sekali”. Seharusnya ini menjadi sebuah asumsi yang optimis karena begitu realistis.

Bill Gates pernah berkata pada intinya, bahwa, kita terlahir miskin bukan kesalahan kita namun apabila  kita mati miskin itu adalah kesalahan kita. Miskin disini luas, bukan hanya harta, tetapi mental, moral, dll nya, dan saya sangat setuju.

Mengapa saya sangat setuju..? Begini, saya percaya akan takdir, tetapi takdir menurut saya hanya ada 2, yaitu lahir dan mati, sisanya itu semua pilihan kita bukan..? Kita tidak bisa memilih kapan dan bagaimana kita lahir dan mati, tapi kita bisa memilih sepanjang perjalanan kehidupan kita dari lahir hingga mati.

Ada 2 pilihan dari setiap kehidupan yang kita jalani, yaitu menjadi manusia yang biasa – biasa saja atau menjadi manusia yang teruji. Manusia biasa – biasa saja untuk mereka yang terpaku dalam rutinitas, enggan beranjak dari zona nyaman, secara berlebihan berpangku tangan kepada rencana Tuhan.

Mengapa saya katakan terlalu berlebihan berpangku tangan kepada rencana Tuhan..? Begini, Tuhan memang memiliki rencana dikehidupan kita, namun Tuhan juga meminta kita untuk meluangkan sedikit waktu untukNya, ya…sekedar berbincang dengan Tuhan lewat doa.

Nah, jika sudah begitu berarti Tuhan sebenarnya murah hati, namanya saja ngobrol, berarti kita bebas membahas apa saja dong, boleh curhat, boleh juga meminta. Saat itulah kita meminta apa yang menjadi harapan dan keinginan kita.

Logikanya apabila sudah meminta, kita harus berusaha untuk mendapatkannya, dengan cara bekerja keras, berani mengambil resiko dll. Namun kebanyakan dari manusia yang biasa – biasa saja mereka terlalu takut bergerak, terlalu enggan keluar dari zona nyaman, tak berani mengambil resiko dari pilihan – pilihan yang ada, dan lucunya sering kali mereka bilang, “ah aku ikut rencana Tuhan saja”.

Alasan ini sering kali digunakan mereka untuk tidak bergerak sehingga tidak bisa mempersiapkan proses menuju kematian sebaik mungkin. Aneh,…namanya saja meminta, kok plin – plan, kok takut berusaha..? Beda dengan manusia teruji, ia berusaha mati – matian, menunjukan dan membuktikan dirinya layak diberi, sakit sana – sini dan ia tidak pernah lupa meminta kepada Sang Maha.

Hal ini mungkin saja membuat luluh hati Sang Maha Murah Hati. Siapa yang tahu, akhirnya Tuhan menulis ulang rencanaNya..? Bukankah dengan begitu orang tersebut sudah mempersiapkan proses kematiannya dengan baik..?

Saya ingatkan sekali lagi, kita semua pasti mati, sekarang kita hanya menjalani proses saja menuju kematian, prosesnya ini disebut kehidupan. Dalam kehidupan kita memiliki masa lalu, masa sekarang dan masa depan.

Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa melalukan yang terbaik di masa sekarang untuk menghindari masa depan yang kurang baik dan untuk menghindari hal itu menjadi masa lalu yang buruk nantinya.

Satu lagi,.. kalo ada yang orang yang bilang “berani mati” yang harus kita ingat mati itu mudah, semua orang pasti mati, berani menjalani hidup itu yang susah, karena banyak pilihan yang harus dijalani pasti banyak resiko yang harus dihadapi.

Saat kita mati nanti kita tidak memiliki pilihan itu, neraka, surga atau reinkarnasi adalah harga mati yang ditentukan oleh Tuhan.

Jadi selagi bisa memilih kenapa tidak dijalani saja dengan menjadi manusia teruji dikehidupan dengan tetap mengandalkan Tuhan dan berusaha layaknya manusia.

 

“ Bicara Tujuan ”

By

-GatotJalu-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *