Bicara Cinta Aku Muak – Aksara – Cerpen

Ruangbosan.com – Aksara – Puisi – Cerpen – Bicara Cinta Aku Muak

“Abang, aku pesen coklat hangat satu.”, suara Lukman sedikit keras, suaranya tak gentar walau hampir dikalahkan suara lalu lalang kendaraan pagi ini.

Usai memesan, duduklah Lukman tepat didepan Dio yang masih asik dengan handphone-nya.

Lukman sibuk melihat lalu lalang kendaraan pagi itu, ia tidak peduli dengan Dio, Sukma dan Ridwan didekatnya.

Mereka berempat memang selalu berangkat subuh untuk datang lebih awal jika kuliah pagi, alasannya sama, lebih baik menunggu jam kuliah sambil mengopi dari pada terkena macet dijalan.

Sukma menyenggol kecil kaki Ridwan dan Dio, ia sadar seolah ada yang aneh dengan Lukman pagi ini.

Lelah memberi kode dan isyarat kepada kedua temannya yang tidak sadar, Sukma berkata, “Tumben ga ngopi, ada apa rupanya?”.

Lukman hanya diam, ia mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya, membakarnya, dan mulai menikmati serbuan nikotin diparu – parunya.

Dio yang sibuk dengan handphone seketika menaruh handphone-nya diatas meja, Dio tak ingin melewatkan apa yang sedang ada di benak Lukman. Dio mulai fokus memperhatikan, menanti apa yang akan diucapkan Lukman.

Melihat itu Ridwan berkata, “Halah, tak usah kau taruh handphone- mu itu, paling – paling juga sesuatu yang tak penting yang ada dibenak Lukman.”, sambil menyenggol kecil tangan Dio.

Lukman menghisap dalam lagi rokoknya, lalu setelah ia hembuskan ia berkata, “Kalian tahu ini hari apa?”.

“Rabu, lalu kenapa?”,  ujar Dio.

“Tanggal?”, tanya Lukman kembali.

“14 Febuary 2018, ada apa sih?”, jawab Dio kembali, ia masih sangat penasaran. Jawaban itu disambut dengan tatapan Lukman yang mengisyaraktkan seolah mengasihani Dio karena begitu bodohnya Dio dihadapan Lukman

“Hari kasih sayang, atau biasa disebut dengan Valentine.”, jawab Sukma. “Lalu ada apa rupanya dengan Valentine?”, sambung Sukma dengan pertanyaanya.

“Ternyata itu yang membuatmu memesan coklat hangat ? Karena kau tahu tidak ada yang memberimu coklat.”, nada Ridwan sedikit meledek. “Sudah aku duga, tidak terlalu penting bukan?”, sambung Ridwan.

“Bisa – bisanya kau bilang seperti itu ? Kau sendiri memang ada yang memberi coklat ? Paling tidak aku berusaha merayakannya dengan menyeruput coklat walau harus membayar sendiri.”, Lukman menyerang balik Ridwan.

“Sudahlah, kalian berdua ini, tak usahlah dijadikan ajang perdebatan.”, Sukma mencoba menengahi.

Dio yang dari tadi diam kemudian bersuara, “Aku setuju dengan Sukma, tak usah dijadikan perdebatan, bagaimana jika dikusi ? Aku bingung, kenapa harus hari ini, kenapa harus tanggal 14 Febuary, memangnya dihari lain mereka tidak saling mengasihi dan mencintai?”.

Dio melanjutkan dan mengembangkan topik pembicaraan pagi ini dengan rasa penasaran yang memenuhi benaknya.

“Kalo pertanyaan, “mengapa harus hari ini?”, kau bisa cari di internet, semuanya bisa kau peroleh, mulai dari fakta sejarahnya hingga cerita – cerita berbau konspirasinya, yang jelas menurutku, hari ini hanyalah hari untuk dimana mereka – mereka semua memberikan secara simbolik bentuk rasa cinta, kasih dan sayang mereka, mungkin dalam rupa coklat, bunga, dan lain – lain, dengan kata lain setiap hari mereka mengasihi dan mencintai, tetapi hari ini mereka merayakan secara simbolik saja.”, ujar Ridwan.

“Kau yakin? Mendengar pernyataanmu barusan aku menjadi berpikir, apakah benar mereka merayakan hanya sebagai wujud simbolik, bagaimana jika sebenarnya dihari lain mereka itu kehilangan cinta, kasih, dan rasa sayang  mereka?

Dengan kata lain dihari selain valentine rasa kasih, sayang dan cinta mereka tidak sebesar hari ini, mungkin juga hilang, atau dikalahkan oleh apa yang menjadi prioritas mereka masing – masing, misal, dihari selain valentine orang – orang terkasih dan tercinta mereka tidak mendapat perhatian lebih karena dikalahkan oleh kesibukan mereka.

Kalo seperti itu berarti hari ini bukan hanya sekedar simbol, melainkan sebagai bentuk balas dendam mereka karena dihari lain mereka menduakan kasih dan cinta mereka dengan kesibukan.”. Terang Sukma, gadis yang tadi ingin menyudahi topik pembicaraan ini malah ikut terpancing.

Tidak biasanya Sukma berargumen begitu panjang, hal ini membuat Ridwan, Dio dan Lukman ikut berpikir dan merefleksikan apa yang diucapkan Sukma.

“Ucapan Sukma dan Ridwan menurutku sama benarnya, bisa sekedar simbolik, atau mungkin bisa juga sebuah bentuk balas dendam karena mereka tahu mereka tidak mampu mencintai secara maksimal orang – orang disekitarnya pada hari – hari biasanya.

Kita membicarakan hari kasih sayang yang identik dengan rasa cinta, tetapi bahkan aku sendiri masih bingung dengan arti “cinta” itu sendiri.”, jelas Lukman mengambil jalan tengah kedua argument Ridwan dan Sukma sekaligus menimpali dengan pertanyaan.

Ridwan menggaruk – garuk rambutnya, ia mencoba menanggapi, “Aku sendiri juga bingung jika ditanya arti cinta, terlalu banyak persepsi, dan kata “cinta” itu sendiri terlalu luas juga untuk dijabarkan, tetapi menurutku cinta adalah pembenaran.

Misal, seseorang mencintai dirinya sendiri, walau orang lain memberi cap egois kepadanya ia akan tetap membenarkan sikapnya tersebut. Contoh lain lagi, cinta terhadap agama, walau orang lain memberi cap fanatik ia akan tetap membenarkan sikapnya dengan alasan ada dalam ajaran mereka.  Atau contoh yang lain lagi cinta terhadap negara disebut nasionalis, misal seseorang……”.

“Stop…!!!!”, Dio memutus perkataan Ridwan dengan sedikit berteriak. “Kalian tahu ? aku pusing,.. aku jadi muak mendengar kata cinta, kasih, dan sayang….. Oke, aku setuju jika kau andaikan cinta adalah pembenaran.

Sekarang yang aku tidak paham mengapa kata cinta, kasih dan sayang yang begitu luas dan juga begitu besar untuk diartikan oleh manusia, pada hari ini harus diturunkan derajatnya, dikerucutkan, dan disempitkan oleh manusia?”, ujar Dio, yang mulai pusing mencerna banyak persepsi dan spekulasi kawan – kawannya.

Mereka berempat mendadak senyap, saling memandang satu sama lain. Ridwan memperhatikan jemari Lukman yang sibuk memainkan rokok, sedangkan pikiran Lukman sendiri mungkin sedang jauh dari rokok dijarinya.

Ridwan akhirnya mengambil sebatang rokok, membakarnya, kemudian, ia mengambil kesimpulan, “Jika ingin lebih tau, kau harus membaca sejarahnya, tetapi kurasa kau tak perlu memahami, nanti kau tambah pusing.

Lagi pula akupun mendadak setuju denganmu. Benar katamu, menurutku terlepas dari sejarahnya atau apapun yang melatar belakanginya, sangat disayangkan cinta dipersempit pada hari ini dengan coklat dan bunga, dikerucutkan dengan puisi ataupun ciuman hangat, atau diturunkan derajatnya dengan pelukan dan segala kemesraan lainnya.

Mungkin juga hari valentine ini tercipta karena manusia sendiri bingung dengan arti cinta yang begitu luas sehingga pada akhirnya mereka mengkerucutkan dan menyempitkannya. Ya mereka bingung, bingungnya kayak kita disini.”.

“Ini coklat hangatnya.”, seketika terdengar suara abang penjaga warung sambil menyodorkan secangkir coklat hangat.

“Ya setidaknya hari ini aku merayakan pembenaran bahwa diriku mencintai diriku sendiri.”, ujar Lukman.

“Aku turut prihatin Lukman.”, ledek Ridwan.

 

” Bicara Cinta Aku Muak “

By

-GatotJalu-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *